Selasa, 29 April 2008

All new clothes




















Senin, 28 April 2008

LOGO - LOGO






Pandan Bag


































































daster batik




daster batik orange




KAOS BATIK







IIE STORE

























Rabu, 09 April 2008

Berita Terkini Roy Suryo: Gunakan Teknik Flaring Untuk Cegah Film Fitna

09/04/08 16:41
Jakarta (ANTARA News) - Pakar Telematika Roy Suryo mengimbau agar masyarakat saja yang menggunakan teknik flaring atau ramai-ramai menolak penayangan film Fitna di situs YouTube, MySpace, Rapidshare, dan Meta Cafe daripada pemerintah yang melakukan pemblokiran seluruh akses ke situs-situs tersebut.

"Jika masyarakat ramai-ramai menuliskan komentar penolakannya di situs itu dan kuota keluhan terpenuhi, mereka akan dengan sendirinya mencopot film itu dari situsnya," kata Roy di Jakarta, Rabu.

Ia mencontohkan, YouTube yang memiliki kuota penolakan 500 atau 1.000 orang untuk mencopot suatu film dari situsnya. "Jadi bukan pemerintah yang bertindak," tambahnya.

Roy menyatakan kurang setuju jika pemerintah memblokir akses situs-situs yang memuat film Fitna dan mengumpamakan tindakan tersebut dengan "mengejar tikus dengan membakar lumbungnya".

"Yang jadi masalah kan kontennya, film Fitna buatan Geertz Wilders yang provokatif dan menyinggung umat Islam itu. Jadi yang diblokir seharusnya film Fitna saja. Sementara itu jangkauan YouTube sebagai situs video-sharing sangat luas. Jangan semuanya diblokir," katanya.

Menurut alumni UGM kelahiran Yogyakarta, 18 Juli 1968 itu, ada juga masyarakat Indonesia yang memanfaatkan bahkan menggantungkan bisnisnya pada keberadaan situs seperti YouTube.

Sebelumnya, Depkominfo menerbitkan surat No. 84/M-KOMINFO/04/08 tanggal 2 April 2008 perihal Pemblokiran Situs dan Blog yang memuat film Fitna.

Dalam surat tersebut, selain meminta Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penyelenggara IIX (Indonesia Internet Exchange), penyelenggara OIXP (Open Inter Exchange Point) memblokir akses, juga meminta 146 penyelenggara jasa internet, serta 30 penyelenggara NAP (network access point) turut berpartisipasi.

"Tapi saya perlu konfirmasi dulu apakah ini adalah kesalahan dari pemerintah atau ISP (internet service provider)-nya yang salah menerjemahkan dengan memblokir akses situs-situs itu secara total," katanya.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menyatakan telah memblokir situs dan blog seperti YouTube, MySpace, Rapidshare dan Meta Cafe yang melakukan posting film Fitna.

Manajemen PT Excelcominfo Pratama Tbk (XL) juga telah mengumumkan bahwa jaringan pelanggan internetnya tidak akan bisa mengakses situs-situs You Tube, My Space, Meta Cafe, dan Rapidshare sampai ada pemberitahuan selanjutnya. (*)

COPYRIGHT © 2008

Langkah Awal Membuat Web

Sudah banyak pelatihan yang diadakan khusus dalam pembuatan web. Ini adalah sedikit langkah ringkas dalam membuat situs web yang sederhana memakai Dreamweaver.

Prasyarat:

  1. Program Dreamweaver
  2. Sudah pernah memakai Dreamweaver
  3. Satu buah gambar header.jpg

————————————————————————

Pertama-tama, tampilan dreamweaver untuk designer adalah seperti ini :

Sekarang untuk kerangka desainnya, kita coba buat tabel seperti ini :

Setelah jadi sebuah tabel tanpa border, klik pada bagian cell paling atas, kemudian insert gambar yang berukuran lebar 750px. Gambar ini akan menjadi gambar header untuk webmu. Kemudian klik atribut tablemu, lalu ubah align tablemu menjadi center pada properties. Seperti ini hasilnya :

Sekarang klik pada cell kedua pada tabel pertama, lalu buat agar cell tersebut “membelah dua” dengan cara mengklik toolbar split cell seperti ini, pilih split cell dengan pilihan columns, 2 :

Klik cell yang dkiri, buat width-nya menjadi=200px (cari W di properties lalu isikan 250px pada box disebelah kanan). Lalu buat table baru dengan ketentuan row-nya =1, dan column-nya= 1. Lalu table width-nya = 100%. Cara pengerjaannya seperti ini :

Coba klik di cell table yang sudah dibuat table nya…
kalo benar hasilnya adalah :

Di propertis header pada atribut tanda checklist-nya hilangkan saja, sehingga tag tadi menjadi . Perbedaan dan adalah membuat cell table memiliki atribut setiap karakter menjadi bold atau strong, lalu align cell-nya selalu center, berbeda dengan yang memiliki atribut normal.

Ulangi langkah pengubahan width pada cell tengah-kanan, W=550px. Lalu buat table baru dengan ketentuan row-nya =1, column-nya= 1, dan width-nya = 100% seperti contoh diatas.

————————————————————————
Huff… cape yah? Istirahat bentar yah…. Yu mulai lagi…………
————————————————————————

Cell kedua biarkan saja seperti ini. Sekarang kita buat cell terakhir kita memiliki background berwarna. Klik cell ketiga, lalu pada properties cell, pilih warna background yang cocok. Lalu buat align cell = center. Ketikkan footer yang kamu mau. Hasilnya :

Di properties, kamu bisa mengubah desain sesuai keinginanmu, seperti mengganti font karakter, mem-bold-italic-kan suatu kalimat, membuat sebuah link, membuat page numbering, dll. Dicoba saja langsung ya…

Saat ini, kamu sudah memiliki header dan footer web-nya. Cell yang tengah-kiri nantinya dimaksudkan nantinya sebagai bar-navigasi, sedangkan yang kanan adalah untuk isi-content dari web itu sendiri.

Cell tengah-kiri kita sebut bar-navigasi yah…

Bar-navigasi ini bisa memiliki banyak fungsi. Misal kita bagi dia menjadi 4 bagian, yaitu :

  1. Menu Login
  2. Web Navigasi
  3. Search
  4. Banner iklan

Untuk membuat tiap navigasi terpisah secara cell, coba “belah” lagi tabel kedua dengan ketentuan row = 4. Lalu isikan tiap cell dengan fungsi bar-navigasi yang sudah direncanakan.

Isi-content coba kita isikan dengan sesuatu yang menarik. Coba buat karangan kata tentang ucapan selamat datang di web kita tercinta…

Tips : Coba klik Page Properties, pada properties di kanan-bawah, disana kita bisa meng-edit tampilan juga, khususnya ke tag . Misalnya Background color, jenis font, warna text, dll.

Dengan sedikit edit sana-sini, hasilnya adalah :

Cukup lumayan kan buat awal mengenal desain web?
Coba berkarya lebih jauh yu….

WIDEBAND CDMA

Teknologi Wireless Generasi ke-3

Pada awal abad 21 teknologi komunikasi wireless sudah memasuki generasi ke tiga. Dimana teknologi komunikasi saat tersebut harus memenuhi persyaratan diantaranya service yang bersifat global dan portabel, mendukung untuk layanan pita lebar (multimedia) baik untuk mobile maupun WLL (Wireless Local Loop), Wireless BOD (Bandwidth on Demand) sampai rate 2 Mbps, interworking dengan sistem eksisting, performansi yang cukup baik terhadap problema propagasi (multi environment) dan harus memiliki efisiensi spektrum yang tinggi.

Menurut standar baik dari Eropa, Jepang maupun USA maka teknologi di atas dikenal dengan istilah IMT-2000 atau UMTS (Universal Mobile Telecommunications System). Di sisi air interfacenya teknologi akses yang dipakai bisa berupa : W-CDMA, TD-CDMA atau Wideband cdmaone tergantung dari kebijaksanaan negara masing-masing.

Untuk lebih jelasnya dapat digambarkan sebagai berikut :

Keterangan :

BTS : Base Transceiver Station
BSC : Base Station Controller


Gambar 1. Air interface Sistem Generasi 3

Khusus yang akan dibahas pada tulisan ini adalah W-CDMA. Adapun pertimbangan yang diambil penulis adalah karena terdapat kecenderungan untuk memakai W-CDMA baik di Jepang, Eropa atau Amerika. Di samping itu kemungkinan besar Indonesia juga akan mengadop teknologi W-CDMA untuk generasi ke-3nya.

Roadmap Menuju W-CDMA

Kebutuhan akses informasi yang cepat akan terus berkembang. Hal tersebut dipengaruhi dengan adanya kebutuhan fleksibilitas dan produktifitas yang lebih tinggi dan kebutuhan mengurangi "dead" time.

Kebutuhan-kebutuhan tersebut setidaknya lebih akan terpenuhi dengan munculnya sistem komunikasi generasi ke-3. Hal ini dapat kita lihat karena dengan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi untuk memasuki ke generasi tersebut.

Persyaratan yang dimaksud dapat diterangkan seperti di bawah ini :

  • Layanan-layanan komunikasi dengan data rate yang tinggi dan transmisi data asimetric
  • Mendukung untuk service baik packet maupun circuit switched, seperti Internet (IP) trafik dan video conference
  • Mekanisme charging yang baru, data volume vs time
  • Kapasitas jaringan yang lebih besar dengan efisiensi spektrum
  • Mendukung untuk koneksi yang besar dan simultan, contoh user dapat mengebrowse Internet dan menerima fax atau panggilan telpon
  • Mempunyai kapabilitas interworking dengan sistem eksisting
  • Portabilitas layanan secara global

Sebelum menuju ke generasi di atas maka telah ada generasi sebelumnya yaitu generasi ke-1 dan generasi ke-2. Generasi ke-1 ditandai dengan teknologi analog sedangkan teknologi ke-2 yang ditandai dengan teknologi digital dengan kecepatan rendah.

Perkembangan menuju sistem komunikasi wireless generasi ke-3 (UMTS/IMT-2000) dapat diterangkan seperti gambar di bawah ini :

Gambar 2. Evolusi menuju W-CDMA

Telepon mobile yang akan datang sekarang sedang dirumuskan oleh badan standarisasi global oleh authorities dan industri. Di Eropa ETSI sedang bekerja untuk UMTS yang akan menjadi International Telecommunication Unit (IMT-2000). W-CDMA adalah salah satu kandidat utama untuk standar UMTS atau IMT-2000.

Teknologi Wideband CDMA

Standar teknologi CDMA, dilihat dari spread signalnya relative lebih besar dari teknologi selular lainnya, pengurangan problem propagasi (multipath dan fading). Dikenal dua standar untuk aplikasi dengan metode akses CDMA. Standar yang dimaksud adalah IS-95 dan poprietary.

Wideband CDMA mengambil konsep ini lebih lanjut oleh pengurangan multipath-fading, penawaran kapasitas dalam tiap cell dan kualitas suara yang lebih baik. Bandwidth yang luas juga membuat mungkin features ke depan termasuk ISDN dan bandwidth on demand. Bandwidth yang ditawarkan bersifat variatif dari mulai 1,26 MHz, 5 MHz, 10 MHz bahkan sampai 20 MHz. Wideband CDMA dengan wireless mempunyai potensi untuk menyediakan "transparan" local loop dengan fungsi penuh seperti wireline.

Wideband CDMA sebagai WLL didesain untuk menyediakan layanan fixed dan mobiile yang dikoneksikan dengan PSTN dari layanan POTS (Plain Old Telephone Service) ke features-features selanjutnya seperti ISDN dan bandwidth on demand. Service-service akan termasuk voice, high speed fax, data dan multimedia, termasuk juga video. Teknologi ini memungkinkan aplikasi ISDN ke desktop fixed wiireless dan mobile wireless.

Peluncuran layanan-layanan wideband multimedia akan menambah performansi dibanding dengan standar wireless yang ada sekarang. W-CDMA sangat mendukung baik untuk komunikasi packet dan circuit switched seperti browsing Internet.

Dari awalnya, W-CDMA didesain untuk layanan data kecepatan tinggi seperti internet base packet data menawarkan sampai 2 Mbps dalam lingkungan kantor dan sampai 384 Kbps di outdoor atau lingkungan yang bergerak.

Secara rinci hubungan antara besarnya carrier spacing dengan dengan bit rate maksimum yang dapat dicapai adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Hubungan carrier spacing dan bit rate

CARRIER SPACING (MHz)

MAKSIMUM BIT RATE

1,26

13 kbps(~ 64 kbps)

5

64 kbps ~ 384 kbps

20

266 kbps ~ 2 Mbps

Sedangkan spesifikasi dari W-CDMA dapat dilihat seperti tabel di bawah ini :

Tabel 2. Spesifikasi Teknis W-CDMA

TYPE SPESIFIKASI

JENIS / NILAI

Radio Access

DS-CDMA / FDD

Carrier spacing

1,26 / 5 / 10 / 20 MHz

Chip rate

4,096 Mcps (1,024 / 8,192 / 16,384 Mcps)

Modulation

Data-QPSK, Spreading – QPSK

Detection (Reverse & Forward link)

Pilot Symbol Aided Coherent RAKE

TCH rate

Sampai 384 kbps (sampai 2 Mbps)

Variable rate TCH

Variable Spreading Factor Multi code Transmission for High rate TCH

Frame length

10 ms

Voice codec

G.729 CS-ACELP

Inter BS Synchronous

Asynchronous

Signaling Protoccol

Layered Protocol
Multiple Protocol Control Entities
B-ISDN based Call Control

Services

Voice, Packet data
Unrestricted information transmission

Spektrum yang baru telah dialokasikan pada band frekuensi 2 GHz untuk sistem komunikasi wireless generasi ke-3. Sebagai gambaran spektrum frekuensi yang rencananya akan diperuntukkan di Eropa dapat dilihat seperti gambar di bawah ini :

Gambar 3. Rencana band UMTS di Eropa

Keuntungan W-CDMA

Konsep W-CDMA yang baru beroperasi dengan besar kanal radio 5MHz adalah sedang dikembangkan dengan menggunakan potensi keuntungan dari CDMA. Sistem yang baru ini mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan sistem narrowband CDMA generasi ke-2 sekarang.

Fitur teknologi W-CDMA adalah sbb:

  • Kapasitas lebih tinggi dan penambahan coverage : sampai 8 kali lebih tinggi trafik per carrier dibandingkan dengan carrier narrowband CDMA
  • Variabel dan kecepatan data yang tinggi, sampai 384 kbit/s pada wide area dan 2 Mbit/s pada lokal area
  • Service packet dan circuit switched
  • Layanan multiple simultan pada tiap mobile terminal
  • Mendukung untuk Hierarchical Cell Structures (HCS) pada metode handoff yang baru diantara carrier CDMA

Fitur-fitur di atas dapat dijelaskan seperti berikut :

  • Menambah kapasitas dan coverage

Ada beberapa faktor yang menambah kapasita dan coverage:

    • Sistem W-CDMA menggunakan 4 kali channel lebih besar dibanding dengan channel narrowband CDMA, kapasitas bertambah 4 kalinya. Dengan bandwidth lebih lebar memperbaiki efek frekuensi diversity dan oleh karena itu mengurangi efek fading
    • Demodulasi koheren pada uplink memperbaiki coverage

W-CDMA menggunakan demodulasi pada uplink. Hal itu akan memberi 2-3 dB gain demodulasi dan memperbaiki coverage.

    • Memperbaiki power control

Pengurangan efek fading pada channel yang besar, akurasi power kontrol akan diperbaiki. Power konrol pada up dan link, yang melawan efek fading dan mengurangi rata-rata level power, akan menambah kapasitas.

  • W-CDMA, variabel dan high speed data rates

Air interface W-CDMA mendukung baik untuk low maupun high bit rates. Kecepatan samapai 384 Kbit/s untuk full mobility dan 2 Mbit/s untuk lokal area. Mendukung kepada pemakai untuk komunikasi yang berbagai macam dari voice sampai multimedia.

Variabel data rates dapat dicapai dengan penggunaan variabel orthogonal spreading codes dan adaptasi dari output power.

  • W-CDMA menawarkan layanan untuk packet dan circuit swithed

Layanan berbentuk packet menawarkan kemungkinan selalu "on-line" dengan aplikasi host tanpa menduduki kanal secara dedicated. Service packet memungkinkan pemakai membayar hanya jumlah data yang ditransmisikan dan bukan waktu koneksinya.

Paket data service adalah penting untuk membangun aplikasi yang cost efektif untuk remote LAN dan wireless internet akses.

Layanan high speed circuit switched dibutuhkan untuk aplikasi komunikasi real time seperti video conference.

  • W-CDMA mendukung layanan secara multiple simultan

Tiap terminal W-CDMA dapat menggunakan beberapa layanan secara simultan. Bagi pemakai akan mempercepat hubungan ke corporate LAN dan pada waktu yang sama dapat menerima Voice call, yang berarti tidak ada nada sibuk ketika line diduduki untuk data call.

  • Kelebihan lain adalah :
    • Mendukung untuk Adaptive Antenna Arrays (AAA)

Teknik ini adalah untuk mengoptimalkan antena pattern pada mobile station. Hal ini akan memungkinkan penggunaan spektrum yang efektif dan akan menambah jumlah kapasitas.

    • Tidak memerlukan GPS untuk sinkronisasi di sisi base stations

W-CDMA mempunyai internal sistem untuk sinkronisasi pada base station, sehingga tidak membutuhkan eksternal sinkronisasi seperti GPS (Global Positioning System).

Hal ini mempunyai masalah jika implementasi base station dilakukan pada daerah rawan covergae satelit GPS seperti shoping center atau di subways suatu gedung.

    • Mendukung untuk Hierarchical Cell Structures (HCS)

W-CDMA mendukung HCS denganmemperkenalkan metode handoff diantara carrier CDMA yang diberi nama Mobile Assisted Inter-Frequency Hand-off (MAIFHO)

    • Mendukung untuk deteksi multi user.

Deteksi multi user akan membatasi interferensi pada suatu cell dan memperbaiki kapasitas.

5. teknologi wireless

SEBAGIAN komunitas yang mempergunakan jalur frekuensi 144 MHz (megahertz) ini kemudian bermigrasi dan berevolusi ke jalur tanpa izin (unlicensed) yang dibuka untuk masyarakat dunia, yaitu jalur 2,4 GHz (gigahertz) atau 24.000 MHz. Terutama mereka yang berasal dari kalangan kampus maupun para eksekutif muda yang sudah akrab bergaul dengan produk-produk teknologi canggih.

Komunitas baru pun tumbuh, terutama bagi mereka yang alergi dengan gaya-gaya breaker atau bahkan mereka yang tidak pernah berkomunikasi dengan radio sama sekali. Dengan membebaskan jalur 2,4 GHz untuk kepentingan umum, hal itu sepertinya telah memberi peluang baru seperti pada era keemasan radio 2 meteran.

Tidak mengherankan apabila sekarang sudah mulai banyak yang mempergunakan sarana di jalur gelombang mikro ini untuk “mojok”. Awalnya memang hanya komunikasi tulisan dengan perangkat komputer kecil seperti notebook atau PDA (Personal Digital Assistant) saja, tetapi belakangan ini sudah ada yang menggunakan handset untuk berkomunikasi suara.

Hal ini dimungkinkan karena berkembangnya teknologi VoIP (Voice over Internet Protocol). Teknologi VoIP sendiri sebelumnya sempat membuat geger penyelenggara telekomunikasi yang tertinggal oleh pesatnya kemajuan teknologi telekomunikasi ini.

Dengan jaringan WiFi sangat dimungkinkan untuk melakukan hubungan ala VoIP atau ada yang menyebut dengan VoIP over WiFi (VoWiFi). Berkomunikasi dengan mitranya di luar kota dengan biaya lokal atau bahkan gratis sama sekali melalui layanan WiFi di kafe.

Bahkan sekarang sudah ada handset untuk melakukan hubungan telepon VoIP melalui jaringan WiFi, selain aplikasi telepon Push-to-Talk (PTT) melalui telepon VoIP. Pada jaringan telepon seluler produk handset PTT atau teknologinya juga disebut PTT over Celluler (PoC).

Cara berkomunikasi dengan perangkat PTT atau PoC sama seperti berbicara mempergunakan pesawat handie talkie (HT) biasa. Pencet tombol saat berbicara atau Pust-to-Talk dan pada saat yang bersamaan lawan bicara-bisa satu atau beberapa-mendengarkan.

Termasuk telepon video yang bukan hanya suara, tetapi juga gambar dari lawan bicara, ini merupakan peningkatan penggunaan VoIP over WiFi. Kebanyakan perangkat yang dibuat masih untuk perangkat ponsel, termasuk istilahnya pun masih masing-masing.

KOMUNIKASI VoIP tidak bisa dihalangi lagi, dan komunikasi suara yang murah ini juga masih menjadi muatan yang dominan dalam telekomunikasi masa depan. Sistem ini menjadi murah jika digunakan untuk jarak yang jauh, antarkota, atau bahkan dengan luar negeri.

Dengan PDA phone seseorang bisa bercengkerama melalui saluran WiFi maupun jaringan telepon seluler sesuai dengan operator yang dilanggani. Baik berkomunikasi dengan gambar video atau hanya tulisan (chatting) atau bahkan hanya berbicara saja layaknya telepon konvensional atau HT.

Ketika bergerak, seseorang bisa mempergunakan PDA sebagai sarana telepon seluler, dan pada saat diam dan berada di suatu tempat yang terdapat hotspot atau access point yang bisa diakses untuk menggunakan jaringan WiFi.

Bahkan perusahaan-perusahaan besar sekarang menggunakan jaringan WiFi untuk memperluas jaringan kabel. Mereka menghubungkan titik akses nirkabel ke jaringan backbone mereka untuk menyediakan akses jaringan dan internet di ruang-ruang pertemuan, lobi, kantin, dan ruang-ruang umum lainnya.

Tentu ini akan memberikan fleksibilitas yang sangat tinggi, selain juga biaya yang murah. Komunikasi telepon nirkabel bisa dilakukan melalui WiFi dan tidak perlu keluar melalui saluran telepon atau koneksi internet lainnya selama masih berada di dalam jangkauan gelombang radio WiFi.

Sepertinya WiFi akan menyedot kue yang diperebutkan para operator seluler maupun operator telepon tetap. Namun, seperti Telkomsel, mereka justru membuka layanan WiFi bagi para pelanggannya yang mereka sebut Surfzone.

Saat ini Telkomsel sedang mendemonstrasikan fasilitas WiFi mereka dan pada saat yang sama mereka juga memperkenalkan jaringan seluler berkecepatan tinggi atau Enhanced Data rate GSM Evolution (EDGE) dengan kecepatan sampai 128 kbps.

Pemilik handset seperti Nokia 9500 Communicator bisa langsung mencoba dua layanan yang sedang didemonstrasikan ini. Tak banyak PDA yang dirancang untuk memiliki dua fasilitas berkecepatan tinggi tersebut.

Seperti iPAQ h6365 dari Hewlett-Packard (HP) bisa akses WiFi, tetapi tidak bisa EDGE, kecuali saluran GPRS kelas 10. Sama halnya dengan O2Xda Iis yang bisa WiFi, tetapi fasilitas seluler hanya GPRS. Adapun Treo 650 bisa untuk EDGE, tetapi tanpa WiFi.

SEMULA WiFi atau Wireless Fidelity yang bekerja pada frekuensi 2,4 GHz dan 5,8 GHz ini lebih berfungsi bagi para pengguna notebook atau PDA untuk mengakses internet tanpa kabel. Itu terutama bagi mereka yang sedang bepergian, seperti di bandara, hotel-hotel besar, kafe-kafe, maupun mal-mal.

Dalam dunia industri WiFi dikenal dengan teknologi komunikasi wireless LAN (WLAN) yang berhubungan dengan standar jaringan nirkabel Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) 802.11. Dengan standar 802.11b mampu menyalurkan 11 megabit per detik (mbps) dan 54 mbps untuk standar 802.11a dan untuk jarak yang lebih jauh digunakan standar 802.11g.

WLAN menyelenggarakan komunikasi jaringan nirkabel pada jarak pendek (terbatas) dengan daya yang rendah. Dengan daya yang dibatasi sehingga hanya bisa menjangkau sekitar radius 100 meter saja, dengan demikian akan mudah terhalang tembok maupun benda-benda penyekat lain.

Walaupun untuk kondisi seperti di Indonesia ada yang menggunakan booster untuk memperluas jangkauan, terutama untuk kegiatan luar ruang, atau juga melewatkan pada kabel listrik yang sebagai antena untuk menembus tembok beton.

Seperti halnya sebuah teknologi nirkabel seluler, WiFi memungkinkan perangkat seperti PDA phone ataupun notebook menjelajah internet, selain berhubungan langsung antarmereka point-to-point. Termasuk antargedung atau antarkawasan dari sebuah perusahaan atau kampus yang sama.

Meskipun daya yang dipergunakan kecil, WiFi mampu membawa informasi ribuan kali lebih besar daripada radio komunikasi konvensional yang pita frekuensinya sangat sempit. Karena itu, tidak heran apabila teknologi WiFi kemudian berkembang untuk aplikasi VoIP dalam komunikasi suara.

Sebelumnya kalangan kampus menggunakan radio komunikasi, termasuk jalur 2 meter, untuk berkomunikasi dengan tulisan (e-mail). Sekalipun hanya sedikit informasi yang bisa dialirkan ataupun diterima, hal itu sudah sangat membantu sebelum akhirnya jalur 2,4 GHz dibuka.

Tentu saja, karena kalangan kampus bisa bermigrasi ke jalur gelombang mikro itu tanpa harus takut dikatakan melanggar hukum tentang pemanfaatan frekuensi. Apalagi semakin banyak peralatan yang dijual untuk pita frekuensi itu dan WiFi tumbuh bak jamur di musim hujan.

“Di Jakarta ini sudah banyak sekali termasuk mereka yang menggunakan untuk point-to- point,” kata Sumaryo, seorang pengamat telekomunikasi WLAN di Jakarta. Sebut saja kawasan Jalan Thamrin, komunitas WiFi dikatakan sudah begitu padat, bahkan apabila dipindai akan terlihat betapa banyaknya aktivitas di jalur 2,4 GHz.

SOLUSI yang boleh dikatakan murah ini merebak di kampus-kampus kota besar. Mereka bukan hanya tidak direpotkan mencari koneksi ke jaringan telepon, tetapi juga unsur tidak perlu membayar inilah yang sebenarnya menarik.

Sepertinya mereka mendapatkan jalan keluar yang tepat daripada menjelajah internet melalui telepon kabel biasa. Belum lagi masalah lambatnya akses melalui telepon karena terlalu banyak pemakai, sedangkan jaringan sudah jenuh.

Selain akses ke jaringan LAN, maka jika pihak kampus menyediakan saluran ke internet, hal itu akan memungkinkan mahasiswa untuk menjelajah internet. Banyak bahan studi yang bisa dicari di internet, selain mereka juga membangun komunitas e-mail (mailing list), berkomunikasi dengan pihak luar.

“Untuk hubungan WLAN ke internet bisa digunakan jalur apa saja. Mau pakai broadband, jalur telepon biasa, ataupun serat optik,” kata Dyan Arifin, pelaku bisnis komputer.

Banyak kegiatan kampus yang bisa diinformasikan melalui jaringan nirkabel ini, apalagi jika tersambung ke jalur internet.

Apakah itu radio komunitas kampus yang selama ini menggunakan jalur frekuensi FM yang belakangan banyak ditertibkan, juga aktivitas televisi kampus bisa lebih dihidupkan melalui jaringan internet. (AW Subarkah) >>source:www.kompas.com

WLAN (Wireless LAN) adalah suatu teknologi baru yang dapat dianggap sebagai penambah atau pengganti dari fungsi jaringan LAN yang ada sehingga pengguna tidak lagi dibatasi oelh kabel LAN untuk dapat masuk kedalam jaringan. Dengan menggunakan WLAN maka banyak sekali keuntungan yang diperoleh seperti mobilitas, fleksibilitas, produktivitas dan scalabilitas dan tentunya masih banyak keuntungan lainnya.

Teknologi Ajax dalam Pemrograman Web




Dalam terminologi pemrograman web, Ajax adalah akronim dari “Asynchronous JavaScript and XML”. Ajax bukanlah suatu bahasa pemrograman, melainkan sebuah pendekatan yang relatif baru untuk memanfaatkan standar yang telah ada dalam membangun aplikasi berbasis web yang interaktif. Ajax juga bukan suatu teknologi tunggal. Lebih tepatnya, Ajax adalah gabungan dari beberapa teknologi terpisah yang dengan perannya masing-masing bersama-sama membangun sebuah aplikasi web.

Ajax menggabungkan pesentasi web standar yang menggunakan HTML, CSS, tampilan dinamis dan interaksi memanfaatkan Document Object Model, pertukaran dan manipulasi data menggunakan XML dab XSLT, dan akses data asinkron memanfaatkan objek XMLHttpRequest, yang kesemuanya itu disatukan oleh JavaScript.

Tujuan pemanfaatan Ajax adalah untuk membuat suatu halaman web yang lebih responsif melalui pertukaran data yang sekecil mungkin dengan server di belakang layar, sehingga seluruh halaman web tidak perlu dipanggil kembali setiap kali pengguna meminta perubahan.

Model aplikasi web klasik bekerja seperti ini: aksi pengguna pada browser akan memicu request HTTP ke web server. Server lantas melakukan beberapa proses tertentu — mengakses data, melakukan query database, berkomunikasi dengan berbagai legacy system — dan kemudian mengirimkan halaman HTML kepada browser pengguna. Ini adalah model yang diadaptasi dari kegunaan awal web sebagai medium hiperteks. Tapi setiap programmer tahu bahwa walaupun web cukup memadai untuk menampilkan data hiperteks, namun tidak ideal sebagai basis software aplikasi.


Perhatikan diagram diatas. Pada pendekatan klasik (sisi sebelah kiri), saat server sedang melakukan tugasnya, apa yang sedang dikerjakan di sisi pengguna (user)? Betul, menunggu. Dan dalam setiap langkah dalam proses ini, pengguna lagi-lagi juga harus menunggu. Seadainya web didesain sejak awal untuk aplikasi, kita tidak harus membuat si pengguna menunggu dan menunggu lagi. Sekali interface dijalankan, kenapa interaksi dengan pengguna harus terhenti setiap aplikasi membutuhkan sesuatu dari server?

Pemakaian Ajax mengeliminasi sifat start-stop-start-stop dalam interaksi dengan web dengan memperkenalkan sebuah perantara: engine Ajax, yang berada diantara pengguna dan server. Sepintas menempatkan suatu layer (lapisan) diantara aplikasi akan membuatnya semakin kurang responsif, tapi dalam kasus ini justeru sebaliknya.

Alih-alih memanggil sebuah halaman web, pada sesi start dan stop, browser menjalankan sebuah engine Ajax — yang ditulis dalam JavaScript, dan biasannya terselip dalam sebuah frame tersembunyi dalam halaman web. Engine ini bertanggung jawab, baik untuk merender tampilan yang dilihat oleh pengguna di browsernya, dan berkomunikasi dengan server atasnama pengguna. Engine Ajax mengijinkan interaksi antara pengguna dengan aplikasi secara asinkron — tidak bergantung pada interaksi dengan server. Dengan demikian, pengguna tidak perlu lagi-lagi menjumpai layar kosong dengan ikon jam pasir, menunggu server melakukan sesuatu, sebagaimana diperlihatkan oleh gambar dibawah.


Setiap aksi dari pengguna yang normalnya akan menghasilkan request HTTP akan memicu panggilan (call) JavaScript kepada engine Ajax. Setiap respon dari pengguna yang tidak memerlukan campur tangan server — seperti validasi data sederhana atau editing data di memory — dapat diolah sendiri oleh engine Ajax. Apabila engine membutuhkan sesuatu dari server untuk merespon permintaan pengguna — seperti mengirimkan data untuk diproses atau mengakses data baru di server — maka engine akan mengirimkan request secara asinkron, biasanya melalui XML, tanpa menutup interaksi pengguna dengan aplikasi.istilah “Ajax” pertama kali dipublikasikan oleh Jesse James Garrett pada Februari 2005. Istilah ini terlintas di benak Garrett saat ia memikirkan sebuah terminologi sederhana untuk merepresentasikan sekumpulan teknologi yang ia usulkan pada seorang kliennya.

Sekalipun istilah “Ajax” telah muncul sejak 2005, sebagian besar teknologi yang membangun Ajax telah dikembangkan satu dekade lebih awal oleh Microsoft melalui teknik Remote Scripting untuk melakukan pemanggilan (loading) suatu halaman secara asinkron tanpa harus memanggil ulang seluruh data, antara lain dengan memanfaatkan elemen IFRAME (diperkenalkan pada browser Internet Explorer 3 pada 1996) dan LAYER (diperkenalkan pada Netscape 4 pada 1997, dan kemudian ditinggalkan pada tahap awal pengembangan browser Mozilla). Kedua tipe elemen tersebut memiliki atribut SRC yang dapat memanggil suatu URL eksternal dan dengan menjalankan suatu halaman yang mengandung JavaScript yang memanipulasi halaman induk, menghasilkan efek yang mirip penggunaan teknologi Ajax. Set teknologi client-side ini biasanya dikelompokkan dalam terminologi generik DHTML. Sementara itu, Macromedia Flash, mulai dari versi 4, telah menjalankan file XML dan CSV dari remote server tanpa perlu memanggil ulang (reloading) halaman web.

Microsoft Remote Scripting (MSRS) yang diperkenalkan pada 1998 adalah pengganti yang lebih elegan terhadap teknik-teknik yang disebut diatas, dengan data diakses oleh suatu JavaApplet, dimana sisi client dapat berkomunikasi memanfaatkan JavaScript. Teknik ini bekerja baik pada browser Internet Explorer versi 4 maupun pesaingnya saat itu, Netscape Navigator versi 4. Microsoft lantas mengembangkan objek XMLHttpRequest pada Internet Explorer 4 dan untuk pertama kalinya memanfaatkan teknik ini melalui XMLHttpRequest pada Outlook Web Access yang disertakan pada perangkat lunak Microsoft Exchange Server 2000. Selanjutnya, Remote Scripting Framework seperti ARSCIF muncul pada 2003, tidak lama sebelum Microsot memperkenalkan Callback pada ASP.NET.

Sebagai tambahan, Konsorsium World Wide Web mengeluarkan beberapa rekomendasi yang juga mengijinkan komunikasi dinamis antara server dan user agent, walaupun hanya sedikit diantaranya yang mendapatkan dukungan, diantaranya adalah elemen object pada HTML 4 untuk merekatkan (embed) konten dinamis pada dokumen (menggantikan frame inline pada XHTML 1.1) serta spesifikasi Load and Save pada Document Object Model (DOM) Level 3.

Alasan paling jelas untuk memanfaatkan Ajax adalah meningkatkan pengalaman browsing pengguna. Halaman yang memanfaatkan teknologi Ajax lebih berlaku sebagai aplikasi yang berdiri sendiri ketimbang sebagai sebuah halaman web. Mengklik suatu link pada halaman web berteknologi Ajax akan membuat halaman terbarui secara dinamis, sementara browser tidak perlu memanggil ulang seluruh halaman. Dengan demikian diperoleh peningkatan kecepatan respon.

Dengan meng-generate HTML secara lokal dalam browser, dan hanya melakukan panggilan JavaScript terhadap data di server, halaman web berbasis Ajax dapat dipanggil relatif cepat akibat kecilnya trafik antara server-client. Ini akan sangat bermanfaat pada halaman web dengan data berjumlah banyak dan harus ditampilkan dalam beberapa halaman. Keuntungan ini semakin terasa kalau kita mempertimbangkan penggunaan elemen-elemen HTML yang sering muncul berulangkali dalam satu halaman (seperti elemen TR dan TD untuk menampilkan tabel). Penggunaan teknologi Ajax dapat mengurangi load halaman karena elemen-elemen tersebut dapat di-generate secara lokal.

Sebagai bagian dari skema “dipanggil apabila dibutuhkan” (load on demand), beberapa aplikasi berbasis web menjalankan bagian dari “event handler” dan kemudian menjalankan fungsi-fungsi secara on the fly. Teknik ini secara signifikan mengurangi konsumsi bandwidth untuk aplikasi web yang memiliki alur logika dan fungsionalitas yang kompleks.

Namun demikian, penggunaan teknologi Ajax juga menyimpan sejumlah kelemahan. Diantaranya, halaman yang di-generate secara dinamis tidak teregister pada “historybrowser sehingga penggunaan tombol back dan forward mungkin tidak akan bekerja semestinya. Para pengembang telah mengimplementasikan berbagai solusi terhadap permasalahan ini, diantaranya adalah penggunaan elemen IFRAME yang tersembunyi untuk meminta perubahan yang dapat dikenali oleh fungsi history pada browser yang kemudian dimanfaatkan oleh fungsi tombol back. Contoh penggunaan teknik ini bisa dilihat pada situs Google Maps, dimana perintah pencarian bekerja pada elemen IFRAME yang tak terlihat, namun hasil pencarian diarahkan pada elemen halaman yang terlihat. Sebagai catatan, Konsorsium World Wide Web (W3C) tidak memasukkan elemen IFRAME dalam standar XHTML 1.1 dan lebih merekomendasikan elemen OBJECT.

Berikutnya adalah kesulitan yang dihadapi pengguna saat mem-bookmark halaman yang di-generate secara otomatis oleh Ajax. Solusinya juga sudah ada, salah satunya dengan memanfaatkan URL fragment identifier (bagian dari URL setelah tanda ‘#’) untuk menyimpan jejak sehingga pengguna dapat kembali ke status yang telah ditandai. Hal ini dimungkinkan karena kebanyakan browser mengijinkan JavaScript untuk memperbarui fragment identifier suatu URL secara dinamis, dengan demikian, aplikasi Ajax dapat menyimpan sebuah kondisi saat pengguna melakukan perubahan pada status aplikasi. Solusi ini juga dapat meningkatkan dukungan terhadap penggunaaan tombol back. Namun demikian, ini masih bukan solusi yang komplit.

Isu lainnya menyangkut optimasi mesin pencari. Situs web yang memanfaatkan Ajax untuk memanggil data yang seharusnya diindeks oleh mesin pencari perlu bersikap hati-hati dengan menyediakan data yang ekuivalen pada URL-nya dalam format yang bisa dibaca oleh mesin pencari. Ini karena robot pada mesin pencari biasanya tidak menjalankan kode-kode JavaScript yang dibutuhkan dalam fungsionalitas Ajax. Ini bukan masalah yang spesifik untuk Ajax mengingat isu yang sama juga dialami situs yang menyediakan data dinamis yang membutuhkan page refresh oleh pengguna, misalnya penekanan tombol submit pada akhir pengisian formulir (secara umum, masalah ini kadang-kadang dirujuk sebagai hidden web).

Ketergantungan pada JavaScript juga menjadi isu tersendiri. JavaScript sering diimplementasikan secara berbeda di tiap browser. Karena itu, situs yang menggunakan JavaScript perlu diuji pada sejumlah browser yang berbeda untuk meyakinkan kompatibilitasnya. Tidak jarang kode JavaScript harus ditulis dua kali, satu bagian untuk browser IE dan bagian lain untuk Mozilla. Masalah juga kerap muncul apabila pengguna tidak mengaktifkan dukungan JavaScript pada browsernya.

WEB 2.0


Jadi, apa sih Web 2.0? Secara teknologi dia bukan barang baru. Mulai diperkenalkan pada 2004 lalu, Web 2.0, secara konten dia merupakan situs interaktif di mana isi lebih dominan ditentukan oleh user, atau pengunjung.

Majalah Information Week memberi definisi yang mengena. Web 2.0 is all the Web sites out there that get their value from the actions of user.
Aksi user yang seperti apa?
Ini contohnya:
- Wikipedia, ensiklopedia yang ditulis dan diedit oleh user.
- Technocrati, mesin pencari blog yang merangking blog berdasarkan seberapa banyak link sebuah blog ke blog lain.
- Flickr, situs di mana user bisa mengirim dan membagi gambar.

Atau dengan pengertian yang lebih sederhana bagi masyarakat umum, bisa jadi penjelasan di atas terlalu rumit. Maka Ouriel mendefinisikannya, "Web2.0 = Web1.0 + Web1.0." Jika Web1.0 adalah mengenai diri kita sendiri, maka Web2.0 adalah mengenai saling interaksi antara diri kita sendiri dan orang lain.

Dan dengan tumbuhnya Web 2.0 itu sudah sepantasnyalah sebagai dotcom, ia tak cuma menjadi alat untuk bahan menggoreng saham, tetapi lebih luas lagi dia dipastikan menjadi dunia baru, yang dijabarkan oleh Thomas Friedman di dalam bukunya The World is Flat itu, memberikan harapan baru generasi baru. Dunia baru yang lebih memberikan harapan. Apalagi di tengah dunia land base Indonesia kini yang memang tidak berpihak kepada pengembangan wirausahawan anak negerinya sendiri.


Perkembangan Web 2.0

Inovasi dalam dunia web semakin hari kian mengalami perkembangan yang berarti, ini dibuktikan dengan adanya Teknologi Web 2.0 yang dikembangkan sekitar tahun 2004. Walaupun sudah termasuk lama kedengarannya oleh para praktisi web, namun sebagian besar mereka masih bertanya-tanya tentang fungsi dan kegunaannya. Web 2.0 merupakan teknologi web yang menyatukan teknologi-teknologi yang dimiliki dalam membangun web. Penyatuan tersebut merupakan gabungan dari HTML, CSS, JavaScript, XML, dan tentunya AJAX.

Pebisnis internet pasti paham bahwa 2001 adalah tahun kelam dotcom. Saat itu memang sebagian besar dotcom yang menghiasi pentas bisnis tiga tahun sebelumnya dan menjadi primadona investasi dunia, tiba-tiba rontok, bertumbangan dan mati. Dotcom boom berubah menjadi Dotcom crash atau dotcom doom. Banyak yang menangis, terutama para investor.

Namun, di balik kehancuran itu O Reilly dan MediaLive International melihat bahwa masih ada dotcom yang lolos dari jebakan maut. Setelah dianalisa, dotcom tersebut memiliki ciri yang sama. Dan ciri-ciri itu tidak dimiliki oleh para almarhum dotcomers. Apakah kehancuran dotcomers lama dan lahirnya jenis dotcomers baru menandai lahirnya generasi baru web? Begitulah pertanyaan Dale Doughterty. Mungkin pionir web dan VP O Reilly ini terinspirasi oleh proses seleksi alam Charles Darwin: begitu ada generasi yang punah, akan muncul generasi baru yang lebih tangguh.

Untuk mempermudah kategorisasi, Doughterty menyebut generasi baru itu Web 2.0.
Inilah contoh-contoh lompatan generasi Web 1.0 ke 2.0.
Web 1.0 —> Wev 2.0
Personal website —> Blogging
Britanica Online —> Wikipedia
Page views —> Cost per click
Publishing —> Partisipasi
Direktori (taxonomy) —> tagging (folksonomi)
Stickiness —> sindikasi
Screen tapping —> web service

Lahir tiga tahun lalu dari hasil imbal wacana antara O Reilly dan MediaLive International, Web 2.0 makin hari makin bergulir. Hanya dalam satu setengah tahun, lebih dari 9,5 juta halaman web dicatat Google mengandung nama ini. Meski diterima banyak kalangan, tak sedikit yang mencibir bahwa istilah ini cuma kerjaan orang tehnikal yang lagi gandrung-gandrungnya dengan teknologi sehingga melahirkan kategorisasi yang bodoh dan tidak dipahami publik. Perdebatan akan masih terus berlanjut.

Karakteristik Web 2.0

Kemudahan berinteraksi antara user dengan sistem merupakan tujuan dibangunnya teknologi Web 2.0. Interaksi tersebut tentunya haruslah diimbangi dengan kecepatan untuk mengakses, oleh karena itu diperlukan suatu bandwith yang cukup untuk loading data. Loading data tersebut dilakukan saat pertama kali membuka situs, data-data tersebut antara lain CSS, JavaScript, dan XML.

Salah satu karakteristiknya adalah adanya dukungan pada pemrograman yang sederhana dan ide akan web service atau RSS. Ketersediaan RSS akan menciptakan kemudahan untuk diremix oleh website lain dengan menggunakan tampilannya masing-masing dan dukungan pemrograman yang sederhana.

Adanya kemajuan inovasi pada antar-muka di sisi pengguna merupakan karakter dari Web 2.0. Dukungan AJAX yang menggabungkan HTML, CSS, Javascript, dan XML pada Yahoo!Mail Beta dan Gmail membuat pengguna merasakan nilai lebih dari sekedar situs penyedia e-mail. Kombinasi media komunikasi seperti Instant Messenger (IM) dan Voice over IP (VoIP) akan semakin memperkuat karakter Web 2.0 di dalam situs tersebut.

Keuntungan perusahaan dalam pemanfaatan web 2.0 untuk mendukung strategi bisnis Pengembangan Web 2.0 yang memungkinkan proses penyampaian data dua arah dan partisipasi pengunjung telah banyak memberikan kontribusi bagi pengembangan bisnis perusahaan-perusahaan.

Mulai dari masalah promo, penjualan hingga masalah pelaporan data, kini dapat dilakukan secara real time dan efesien melalui website.

Beberapa keuntungan bagi perusahaan dalam pemanfaatan web 2.0:
Perubahan arus informasi. Jika dahulu arus penyampaian informasi perusahaan melalui website bersifat satu arah dan sangat terbatas, maka dalam era pengembangan Web 2.0 saat ini arus informasi berlangsung dalam dua arah, timbal balik.

Perusahaan tidak hanya dapat memberikan informasi kepada pembaca, namun pembaca juga dapat memberikan masukkan kepada perusahaan, baik itu melalui forum, melalui email pengaduan, blog, jajak pendapat dan lain sebagainya. Arus timbal balik ini merupakan suatu kelebihan pengembangan website di era web 2.0, dibandingkan dengan era pengembangan website sebelumnya, di mana informasi hanya dilakukan satu arah saja.

Nilai partisipasi.

Partisipasi merupakan suatu ciri dari pengembangan web 2.0. Interaktifitas dalam suatu website perusahaan menjadi satu keharusan saat ini. Bagaimana suatu website dapat dengan mudah mengajak pengunjungnya untuk berinteraksi dan berpartisipasi melalui berbagai macam fitur yang disediakannya, merupakan suatu nilai penting dalam pembuatan sebuah website perusahaan.

Website diharapkan dapat menciptakan suatu bentuk partisipasi wujud loyalitas pengunjung terhadap website tersebut. Loyalitas dan partisipasi pengunjung dalam sebuah website merupakan satu nilai marketing yang handal bagi sebuah perusahaan. Hal ini menjadi sangat penting bagi sebuah perusahaan, untuk mengetahui sejauh mana perusahaan tersebut mempunyai nilai jual di dunia maya.
Potential Customer.

Melalui website perusahaan, terutama bagi perusahaan yang menghasilkan produk dan jasa, Potential Customer merupakan sasaran utama dalam pengembangan web site perusahaan. Website seharusnya dikembangkan dengan sedemikian rupa agar dapat mengakomodasi dan menjaring kepentingan para pelanggan potensial ini.

Yang dimaksud dengan pelanggan potensial di sini mempunyai artian yang sangat luas, mulai dari masyarakat umum yang dapat dijaring agar tertarik dan memakai produk perusahaan yang bersangkutan, hingga para pelanggan yang telah setia memakai produk perusahaan tersebut dan secara aktif berpartisipasi dalam pengembangan produk, baik dengan cara memberikan masukkan kepada perusahaan dengan berbagai cara, hingga mereka yang dengan setia mengikuti info pengembangan produk dan seluk beluknya.

Perluasan bidang informasi yang dapat disampaikan melalui website.
Jika dahulu website hanya dikenal sebagai media promosi yang hanya menyediakan informasi perusahaan dalam batas kaitannya dengan promosi saja, maka kini bidang informasi yang dapat digitalisasi oleh suatu perusahaan juga meluas. Website dapat dipergunakan sebagai sarana pengganti untuk pengembangan sistem informasi management sebuah perusahaan, terutama bagi perusahaan-perusahaan besar.

Kini telah banyak kita jumpai perusahaan-perusahaan multinasional maupun internasional yang mengembangkan sistem informasi management-nya dalam kerangka under web. Hal ini disebabkan oleh efektifitas dan kualitas pelayanan dari sebuah sistem informasi under web dibandingkan dengan cara konvensional.

Terutama dalam hal cakupan jangkauan operasional, sistem informasi under web ini sangat membantu mengatasi berbagai masalah yang ada. Dengan pengembangan sistem informasi under web, proses pelaporan dan operasional perusahaan di berbagai cabang yang ada, bahkan diseluruh penjuru dunia sekalipun, dapat dipantau dengan mudah oleh pusat secara real time.

Begitu pula proses pelaporan dari cabang ke pusat, dapat berlangsung dengan lebih cepat dan continue.(Pitra)


Arah SDM Teknologi Informasi: Dari Spesialis ke Versatilis

Author: Romi Satria Wahono | Published: 25thSeptember 2006
Category: Manajemen dan Kebijakan TI


Menarik membaca laporan khusus Gartner tentang prediksi 2006 (Gartner Predictcs 2006 Special Report), yang kebetulan juga dibahas di majalah eBizzAsia bulan pebruari 2006. Diramalkan bahwa pada tahun 2010 pasar kerja para spesialis Teknologi Informasi (TI) akan berkurang hingga 40%. Para spesialis (specialist) ini akan digantikan oleh versatilis (versatilist), yang mampu mengkombinasikan kompetensi dan keahlian teknis, dengan pengalaman bisnis dan kemampuan memberikan solusi komprehensif. Siapa itu spesialis? Siapa itu versatilis? kita coba bahas dalam tulisan ini.

Mengapa ada perubahan arah SDM TI seperti ini? Faktor terbesar adalah meningkatnya persaingan bisnis seiring dengan semakin kompleksnya perkembangan Teknologi Informasi sendiri. TI semakin dibutuhkan untuk memecahkan permasalahan di berbagai bidang, diperlukan solusi multidisiplin, multiplatform dan sesuai dengan konteks permasalahan yang dihadapi. Disinilah Gartner menyebut istilah “IT versatilist”, yaitu orang-orang yang memiliki pengalaman, kemampuan menjalankan berbagai tugas yang beragam dan multidisiplin (versatile), dimana semua itu untuk menciptakan suatu pengetahuan (baru), kompetensi dan keterkaitan (context) yang kaya dan padu guna mendorong peningkatan nilai bisnis.

Sifat sang versatilis adalah fleksibel terhadap teknologi, orientasi utamanya adalah untuk memberikan solusi sesuai requirement (kebutuhan) yang diminta oleh sang customer. Versatilis bukan seorang generalis yang mengenal semua bidang dan teknologi tapi hanya kulitnya (dangkal). Versatilis tidak terlahir tiba-tiba, tapi karena pengalaman matang menjadi seorang spesialis. Versatilis juga bukan spesialis yang hanya mengerti cakupan bidang yang sempit, meskipun dalam. Versatilis adalah seorang spesialis yang berpikir lebih luas, berwawasan, matang, penuh perhitungan, mengerti tentang bisnis, orientasi kerja untuk memberi solusi, mampu bekerjasama (membangun networking) dengan orang-orang TI lain maupun non TI, dan yang pasti tidak mengkotakkan dirinya pada sebuah teknologi, tool atau platform.

Prediksi Gartner ini diperkuat oleh beberapa data, misalnya tentang 80% profesional TI di Amerika bekerja di perusahaan-perusahaan yang menerapkan TI, dan bukan perusahaan-perusahaan TI sendiri (hardware, software, service). Wajarlah seorang profesional TI dituntut untuk memiliki kemampuan verbal dalam menyampaikan konsep-konsep teknologi informasi dalam bahasa yang dimengerti oleh banyak orang. Inilah dia sang Versatilis!

Sebelum membaca laporan Gartner ini sebenarnya saya sudah mendapatkan pencerahan dari pengalaman pribadi selama 10 tahun di Jepang. Keluar masuk bekerja parttime maupun semi fulltime di berbagai perusahaan TI Jepang, mulai dari menjadi teknisi, engineer, developer, konsultan sampai lecturer. Saya mungkin tidak menyebut sebuah terminologi seperti Versatilis, hanya saya mencoba memberi gambaran tentang figur SDM TI Indonesia dalam kesempatan berbicara di seminar dan workshop di berbagai tempat. Mudah-mudahan yang sering mengikuti seminar saya mengingat kembali tentang hal ini. Pesan yang saya sampaikan khusus untuk para generasi muda SDM TI Indonesia adalah:

  • OS, bahasa pemrograman, software dan teknologi hanyalah sebuah tool (alat), yang harus kita kuasai dan gunakan untuk memecahkan masalah dan membangun solusi. Dia bersifat tidak kekal, dia bukanlah agama yang harus dianut dan difanatikkan seumur hidup. Ketergantungan terhadap sebuah tool adalah kebodohan. Debat kusir tentang tool dan saling mengumpat atau membela mati-matian sebuah tool adalah tindakan sia-sia, karena mereka masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
  • Setiap peluang memiliki nilai untung dan rugi, setiap keputusan yang diambil dalam hidup harus memperhitungkan opportunity cost yang harus dibayar.
  • Cerdas dalam mengambil berbagai peluang yang ada dan usahakan mengemasnya dalam sebuah karya dan produk yang menjadi solusi bagi orang lain.
  • Mengambil kesempatan kerja part time atau full time sebagai proses pembelajaran dan melatih diri secara riil
  • Latihlah kemampuan verbal. Diantara kesibukan berkomunikasi dengan mesin (komputer), tetap latih teknik dan strategi berkomunikasi dengan manusia. Berlatihlah menyampaikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita kuasai dengan bahasa sederhana dan dapat dipahami dengan mudah oleh orang awam sekalipun.
  • Bangun jaringan (networking) dan kerjasama dengan berbagai pihak. Setiap pertemuan dengan orang lain, siapapun dia, akan membawa manfaat bagi kita, meskipun kadang-kadang tidak langsung datang seketika.

Sabtu, 05 April 2008

iie cantiek

Desain Web

Tugas Desain Web




Tutorial HTML

1. Pendahuluan
2. Struktur Dasar HTML
3. Pengaturan Teks
4. Lists
5. Images dan Links
6. Table
7. Frames
8. Kumpulan HTML
9. Karakter Khusus